"Wahai orang-orang yang beriman!Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu-Muhammad:7"

Rabu, 28 Oktober 2015

Semoga tidak terburu-buru dalam menunggu jawaban Tuhan

Untuk kita yang sedang menanti dalam kesahajaan, semoga hiruk pikuk perhelatan saudari tidak menjadikan hati ini bertanya "kapan", karena sejatinya kita selalu berdo'a bukan, agar Allah tidak mempercepat apa-apa yang tertunda, juga tidak menunda apa-apa yang dipercepat. 

Lalu dari yang tertakdir itu, untuk kita yang sedang berjuang keras dalam penjagaan, semoga tidak ada do'a dan pengharapan yang memaksa Maha Kuasa. Tuhan, sudah menuliskan. Hanya Dia tidak menginfokan. Sebab Dia tahu, "bagaimana" kita menginginkan, kemudian memberikan ruang untuk berjuang sesuai dengan yang kita pahamkan.

Untuk kita yang sedang membaikkan diri dalam setiap laku dan gerak akhlak. Semoga ianya menjadi penjaga kini, juga nanti saat berpapasan diatas pelaminan. Karena sedetik setelah kata "sah" itu diucapkan, ada pembuktian terhadap apa yang selama ini diperjuangkan. 

Diluar sana, banyak proses yang sedang berjalan, Ukhti..
Banyak khitbah lalu akad yang akan dilangsungkan...
Banyak juga walimah yang akan diselenggarakan...

Maka untuk kita yang merasa lelah dengan kesendirian, penat dalam penantian, bosan dengan pertanyaan, tidak ada yang lebih mengindahkan selain mengembalikan segalanya pada Yang Maha Lathif. Juga cara lain, adalah dengan mengenang kisah lalu yang membanggakan kita sebagai umat islam. Atau pelajaran dari ahli Sufi, atau para Pembaharu agama ini. Kisah apa saja. Bentangkan! Lalu rasakan jika harus ada bulir bening yang berjatuhan, ntah itu bermakna kita haru, bangga, atau bahkan malu jika kelak berpapasan dengan mereka bersebab faqirnya diri lagi tiada yang utama dalam amal ini.

Juga untuk kita yang anggun dalam setiap pemaknaan kerja, ilmu, dan ibadah...semoga ia mengistiqomahkan, hingga nanti Allah pertemukan dengan pujaan dalam sebaik-baiknya keadaan, setinggi-tinggi tawakkal, juga selurus-lurusnya 'Aqidah.

Ada niat yang senantiasa diluruskan,
Sabar yang senantiasa dikuatkan,
Ilmu yang senantiasa ditambahkan,
Amal yang senantiasa dibaik-kan,
Ibadah yang senantiasa diluruskan,
Serta Aqidah yang senantiasa dibersihkan.

Kita, semoga tidak terburu-buru dalam menunggu jawaban Tuhan
:)

Selasa, 27 Oktober 2015

Lalu saya merasa, bahwa setiap yang ditulis bukan perkara luar biasanya intelektual dan pengetahuan yang dimiliki. Bukan juga karena mahirnya jemari dalam penyusunan kalimat per kalimat. Tapi setiap kata, tersusun secara tidak sengaja oleh HATI yang nyaman dalam keimanan. Tak akan ada kalimat yang terangkai jika ambisi untuk memperlihatkan kehebatan begitu besar, tidak ada juga setiap kalimat bermakna jika apa-apa yang ditulis tidak dari hati. 
Lalu apa? 
Tak akan ada yang sampai.

Maka yang diperbaiki bukan ilmu dan kemahiran, meski keduanya sebagai penunjang dalam berkarya. Yang mesti dihebatkan adalah hati kita, iman kita. Lalu kita berdo'a agar ia menjadi yang bermanfaat untuk sesama.

Jadi wajar-wajar saja jika Tulisan Lepas ini berjarak waktu, karena memang begitulah HATI, ia hadir dengan keimanan yang naik dan turun, kuat dan lemah.



:)
:)
:)

HANCURKAN saja!

Karena terkadang, kita terlalu sering didominasi oleh perasaan kita sendiri, hingga menutup ruang untuk mereka yang berusaha menebar pelangi dalam setiap sisi hati hamba Allah. 

Benar jika ukhuwah itu tentang ruh-ruh yang bersesuaian,
Benar jika setiap orang memiliki tempat dan ruang dihati kita dengan porsi yang berbeda,
Benar jika semua yang kita kenal dan temui memiliki urutan yang tak sama pula,

Hanya saja… dari poin-poin kebenaran ini, jangan sampai mereka yang tulus, tertutup kesempatan untuk menjadi yang utama bagi kita, setidaknya ini menurut mereka. Adapun kita, yang menguasai hati ini tak bisa memungkiri bahwa batasan-batasan itu pasti ada. Lalu kita teringat, bukankah Nabi kita mengajarkan bahwa, memperlakukan setiap insan selamanya istimewa, hingga semua sahabat merasa, bahwa merekalah yang istimewa bagi baginda. Tapi beliau, lebih mencintai Abu Bakar. 

Begitulah kita seyogyanya, 

Bahwa setiap kita fitrahnya memang memiliki kecenderungan. Hanya jangan sampai, kecenderungan itu menjadi benteng yang kokoh untuk menghadang kekuatan mereka yang tulus dalam berbagi, sebagai umat Muhammad. Sebab mereka – umat Muhammad paham, bahwa baiknya islam mereka tidak akan tercapai kecuali jika dan hanya jika mereka mampu saling mencinta, seperti mereka mencintai diri mereka sendiri. 

Perlakuan ini, atau sering kita sebut ia sebagai Akhlak – kata Imam Malik adalah salah satu ciri atau pondasi insan dalam bermuamalah. Selebihnya, ada akhlak “Jangan Marah, maka bagimu syurga”, ada juga “Muslim itu berkata baik atau diam”. Satu lagi lupa (hehehe).

Maka Hancurkan saja segala benteng perasaan yang ada.

HANCURKAN!

Hingga hati-hati kita mampu meraba, merasakan, dan melihat betapa banyak mereka yang hadir dan membawa senyum kebahagiaan, ternyata selama ini terabaikan karena terlalu tingginya benteng itu. Kebaikan tak lagi Nampak. Ketulusan tak lagi terasa. Senyuman pun tak lagi mesra.

HANCURKAN saja!

Agar hati kita lebih leluasa untuk menerima segala kurangnya saudara. Agar hati kita lebih lapang dalam bersaudara. Juga agar hati kita lebih fleksibel untuk saling mengindahkan.



Ada kalanya aku yang memiliki benteng itu, 

Juga ada kalanya aku yang berbagi pelangi itu.

PKPU Bukittinggi